Deucalion adalah anak dari Prometheus. Dia hanya orang biasa dan bukan Titan seperti ayahnya, namun ia terkenal baik dan jujur. Istrinya bernama Pyrrha, salah satu wanita tercantik dari ras manusia.

Setelah Zeus membelenggu Prometheus di Gunung Caucasus dan melepaskan segala macam keburukan yang keluar dari kotak Pandora ke dunia, manusia menjadi sangat kejam. Mereka tidak lagi membangun rumah, memelihara ternak dan hidup bersama dalam damai.

Semua orang saling mengusungkan pedang kepada sesama, berperang, membuat keributan, bahkan dengan kerabat dan saudaranya sendiri. Tidak ada hukum yang dapat menjamin keamanan siapapun, apalagi di saat Prometheus tidak berada di antara mereka, kondisi moral umat manusia menjadi lebih buruk dari sebelumnya.

Walaupun melepaskan keburukan adalah kehendak Zeus, namun dengan bertambahnya keburukan umat manusia, yang semakin hari semakin tidak bisa mengontrol diri untuk membuat kehancuran di mana-mana , Zeus pun mulai muak dan bosan, melihat begitu banyak pertumpahan darah dan mendengar teriakan orang miskin yang tertindas.

“tidak ada jalan lain” kata Zeus kepada para dewa,”kita harus melenyapkan umat manusia. di saat kita menciptakan manusia, mereka kelihatan sangat bahagia. Bahkan kita merasa ketakutan suatu saat mereka akan menjadi seperti kita, namun kenyataannya, mereka tidak mampu mengontrol dirinya dan membuat kehancuran di muka bumi.”
.
Zeus pun mengirim hujan-badai siang dan malam untuk waktu yang lama di atas bumi, ia meminta saudaranya, dewa laut Poseidon melepaskan air dari laut, dan air pun mulai merambah tanah menutupi dataran, kemudian hutan lalu perbukitan.

Tapi manusia terlalu sibuk dengan kejahatannya, bahkan saat hujan deras dan air laut telah menyentuh kaki, mereka masih saling menyerang satu sama lainnya.

Tak seorang pun kecuali Deucalion, putra Prometheus yang siap menghadapi malapetaka tersebut. Ia tidak pernah bergabung dengan orang di sekelilingnya yang gemar melakukan kejahatan. Sering sekali Deucalion mengingatkan, kalau mereka tidak meninggalkan perbuatan jahat, akan ada hari dimana mereka mendapatkan perhitungan.

Setahun sekali ia pergi ke gunung Caucasus untuk berbicara dengan ayahnya yang terbelenggu di puncak gunung.”Hari itu akan datang,” kata Prometheus, “ketika Zeus akan mengirim banjir untuk menghancurkan umat manusia di bumi. Pastikan kau siap untuk itu, anakku. “

Di saat hujan mulai turun, Deucalion mengeluarkan perahu yang telah di persiapkannya. Hanya dia dan Pyrrha, istrinya, yang duduk di perahu itu, mereka mengapung dengan aman di saat air sudah mulai meninggi. Entah berapa lama perahu terombang-ambing ke sana kemari.

Akhirnya hujan pun berhenti , awan putih mulai kelihatan, menyusul langit biru dan matahari berwarna keemasan menampakkan dirinya. air mulai surut dengan sangat cepat. Pada hari berikutnya kapal itu berada di atas sebuah gunung tinggi yang disebut Parnassus.

Deucalion dan Pyrrha mulai menginjakkan kaki di tanah yang kering. Dalam waktu singkat segala sesuatu yang ada di pulihkan seperti sediakala kecuali umat manusia. angin lembut mulai bersemilir diantara daun-daun. Bunga-bunga bertumbuhan, hewan-hewan berkeliaran, keadaan menjadi lebih indah daripada sebelumnya.

Tapi Deucalion dan Pyrrha sangat sedih, karena mereka tahu bahwa tidak ada lagi manusia kecuali mereka berdua. Pasangan ini pun mulai berjalan menyusuri sisi gunung menuju dataran, bertanya-tanya apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya.

Sementara mereka berbicara dan mencoba memikirkan apa yang harus di lakukan, tiba-tiba terdengar suara dari belakang. Mereka berbalik dan melihat seorang anak muda yang gagah dan tampan berdiri di salah satu batu yang menjulang.

Pemuda yang sangat tinggi, dengan mata berwarna biru dan rambut kuning. Ada sayap di sepatu dan topi. Mereka berdua langsung tahu bahwa ia adalah Hermes, pembawa pesan dari para dewa.

mereka menunggu dan siap mendengar apa yang akan dikatakannya. “Apakah ada sesuatu yang kalian inginkan?” Tanyanya. “Katakan padaku, dan kalian akan mendapatkan apa pun yang kalian inginkan.”

“Kami ingin melihat negeri ini penuh dengan manusia sekali lagi, karena tanpa tetangga dan teman-teman, dunia adalah tempat yang sangat sepi.” Kata Deucalion.

“Pergilah menuruni gunung,” kata Hermes, “Sambil berjalan lemparkan tulang ibumu ke belakang melalui bahumu.” Setelah berkata demikian, ia melompat ke udara dan menghilang.

“Apa maksudnyanya?” Tanya Pyrrha.

“Aku juga tidak tahu,” kata Deucalion. “Mari kita berpikir sejenak. Siapakah ibu kita, kalau bukan Ibu Bumi Gaea, dari siapa lagi semua makhluk hidup bermunculan? Namun apa yang ia maksud dengan tulang ibu kita? “

“Mungkin maksudnya batu-batuan,” kata Pyrrha. “Mari kita menuruni gunung sambil mengumpulkan batu dan melakukan sesuai apa yang dia katakan.”

Mereka pun berjalan, menuruni lereng curam Gunung Parnassus sambil mengumpulkan batu dan mulai melemparkannya ke belakang melewati bahu mereka. anehnya, batu-batu yang di lempar oleh Deucalion berubah menjadi pria dewasa yang gagah dan tampan, sedangkan batu-batu yang di lempar oleh Pyrrha berubah menjadi wanita dewasa yang cantik.

Entah berapa banyak batu yang di lemparkan, Ketika akhirnya sampai di dataran dan menoleh ke belakang, ternyata telah ada rombongan pria dan wanita dalam jumlah besar yang berjalan mengikuti mereka.

Deucalion menjadi raja bagi umat manusia yang baru, mengatur mereka, mengajarkan bagaimana mengolah tanah dan melakukan banyak hal yang berguna. Bumi pun di isi dengan orang-orang yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Mereka menamakan tempat itu Hellas, sampai sekarang keturunan Deucalion dan Pyrrha ini di sebut Hellenes, dan tempat itu sekarang dinamakan Greece atau Yunani.(YG).

Iklan