Setiap musim panas, sebuah desa di kaki Himalaya nyaris kosong. Penduduknya berbondong-bondong menuju area gunung di utara Nepal. Mereka memanen yarchagumba, jamur liar yang tumbuh di ketinggian yang tenar dengan kualitas afrodisiak-nya atau kemampuan meningkatkan gairah seksual.

Namun beberapa tahun terakhir ini, panen yang dihasilkan tak lagi maksimal. Para ilmuwan menduga ada dua faktor penyebabnya: dipetik berlebihan dan perubahan iklim. Kondisi tersebut menyebabkan kekhawatiran akan nasib masa depan “viagra Himalaya” itu.

Salah satu penduduk menceritakan betapa buruknya panen musim ini. Padahal, jamur langka ini menjadi tumpuan ekonomi penduduk, untuk menghidupi keluarganya. “Kami kembali ke rumah, padahal tak lebih dari 10 yarchagumba yang kami kumpulkan dalam sebulan,” kata Nar Bahadur Bohara pada Kathmandu Post.

“Mereka yang tahun lalu bisa mengumpulkan 150 hingga 200 buah, hanya bisa mendapat 20 sampai 30 jamur tahun ini,” kata dia.

Penjelajah gunung lainnya, Narendra Thekare menduga, penyebabnya adalah cuaca. Area tersebut sama sekali tak mendapat hujan selama dua bulan, selama musim salju. Padahal, hujan mutlak diperlukan agar jamur berkembang. “Produksi yarchagumba merosot drastis dalam lima tahun terakhir. Jika situasi ini tak berubah, bukan tak mungkin yarchagumba akan lenyap,” kata dia.

Penelitian ilmuwan University of Massachusetts, Uttam Babu Shrestha juga mengungkapkan, penurunan hasil panen yarchagumba sangat signifikan.  Penyebabnya, kurang salju di musim dingin dan peningkatan suhu. “Jika tak ada intervensi, ia akan semakin langka,” kata dia.

Masyarakat lokal bahkan menduga, yarchagumba bisa punah dalam waktu 10 tahun.

Tujuan ekspor utama yarchagumbaadalah  negeri tetangga, China. Permintaan besar membuat harga jamur ini melejit menjadi US$11.500 atau sekitar Rp108 juta per 450 gram.

Meski panen menurun, penjualan yarchagumba menambah penghasilan Distrik Darchula sebanyak US$85.000 tahun lalu.

Ribuan pemburu jamur bersaing di gunung demi menghidupi keluarganya selama periode April-Juni. Namun kompetisi mendapatkan yarchagumba makin sengit dan berdarah. November 2009 lalu, pengadilan menghukum 19 orang dalam kasus pembunuhan tujuh petani terkait perebutan jamur itu di Nar, desa terpencil setinggi 4.000 meter di atas permukaan laut.

Belum terbukti ilmiah

Yarchagumba (Ophiocordyceps sinensis) sejatinya terdiri dari dua orghanisme: larva ngengat “hantu” Himalaya dan jamur Cordyceps. Spora jamur menyerang larva ketika ia hidup di dalam tanah, membunuhnya, dan menyebabkan jamur tumbuh di kepala hewan itu.

Belum ada penelitian yang dilakukan ilmuwan Barat, namun pakar herbal China yakin, jamur itu adalah contoh keseimbangan sempurna dari yin dan yang, karena ia adalah hewan sekaligus tanaman. Yang berkaisat untuk meningkatkan kemampuan seksual.

Cara memakainya sederhana. Direbus laiknya teh, dicampur dalam sup atau tumis. Selain hasrat seksual, yarchagumba juga diyakini bisa menyembuhkan beragam penyakit, dari kelelahan hingga kanker.

Yarchagumba nyaris tak dikenal di dunia barat hingga tahun 1993, saat ia disebut-sebut menjadi rahasia di balik kesuksesan pencapaian rekor tim lari wanita China dalam kejuaraan dunia di Stuttgart, Jerman. Kala itu, pelatihnya sesumbar, mereka memberi jamur langka itu dicampur darah penyu pada para atletnya

sumber